Khutbah Jumat: Maulid Bukan Sekadar Perayaan: Momen Mengubah Cinta kepada Rasulullah ﷺ Menjadi Akhlak

Khutbah Jumat: Maulid Bukan Sekadar Perayaan: Momen Mengubah Cinta kepada Rasulullah ﷺ Menjadi Akhlak

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tentang bagaimana hubungan kita dengan Allah, tetapi juga tentang bagaimana kita memperlakukan sesama manusia.

Pada bulan Rabiul Awal, kaum Muslimin kembali diingatkan kepada sosok manusia paling mulia, Nabi Muhammad ﷺ. Nama beliau kembali sering disebut. Shalawat kembali menggema. Kisah perjuangan beliau kembali disampaikan. Masjid dan majelis ilmu kembali ramai dengan pembahasan tentang kehidupan Rasulullah ﷺ.

Namun, ada satu pertanyaan penting yang perlu kita renungkan:

Setelah kita memperingati Maulid Nabi, apa yang berubah dari diri kita?

Apakah hanya bertambahnya kegiatan? apakah hanya bertambahnya shalawat yang kita ucapkan?

Ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang berubah dalam kehidupan kita?

Apakah akhlak kita menjadi lebih baik?

kita menjadi lebih lembut kepada keluarga?

atau kita menjadi lebih jujur dalam bekerja? kita menjadi lebih sabar ketika menghadapi masalah?

Apakah kita menjadi lebih mudah memaafkan? atau kita akan menjadi lebih berhati-hati ketika berbicara dan menggunakan media sosial?

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Inilah yang ingin kita renungkan pada khutbah hari ini:

Maulid Bukan Sekadar Perayaan, tetapi Momen Mengubah Cinta kepada Rasulullah ﷺ Menjadi Akhlak.

Sebab Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk dikenang.

Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk dipuji.

dan Rasulullah ﷺ bukan hanya untuk disebut namanya.

Tetapi Rasulullah ﷺ adalah teladan yang harus diikuti.

Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Rasulullah ﷺ adalah uswatun hasanah, teladan terbaik dalam kehidupan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah bagian penting dari iman.

Kita mencintai beliau karena beliau adalah utusan Allah. Melalui beliau, Allah menyampaikan petunjuk, Melalui perjuangan beliau, kita mengenal Al-Qur’an,  Melalui sunnah beliau, kita memahami bagaimana menjalani kehidupan sebagai seorang Muslim.

Tetapi cinta memiliki konsekuensi.

Orang yang mencintai seseorang biasanya ingin mengenal orang yang dicintainya.

Ia ingin mengetahui apa yang disukai.

ingin mengikuti jalan hidupnya.

bahkan ingin memiliki sifat-sifat yang dicintainya.

Begitu pula cinta kepada Rasulullah ﷺ.

Allah Swt. berfirman:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Ali Imran: 31)

Maka cinta bukan hanya ucapan.

Cinta harus melahirkan keteladanan.

Kita boleh mengatakan, “Saya mencintai Rasulullah ﷺ.”

Tetapi pertanyaan berikutnya: Apakah akhlak Rasulullah ﷺ sudah terlihat dalam diri kita?

Rasulullah ﷺ adalah Teladan Akhlak

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Allah Swt. memberikan kesaksian yang sangat agung tentang akhlak Rasulullah ﷺ:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)

Akhlak Rasulullah ﷺ begitu mulia.

Beliau jujur, amanah, penyayang, pemaaf, rendah hati, menjaga lisannya, menghormati orang lain, menyayangi keluarga, memperhatikan orang miskin, membantu orang yang membutuhkan, Dan  bahkan beliau tetap menunjukkan kemuliaan akhlak bahkan kepada orang yang menyakiti dan memusuhinya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad disebutkan:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

Karena itu, akhlak merupakan bagian penting dari misi Rasulullah ﷺ.

Maka jangan sampai kita memperingati Maulid, tetapi akhlak kita tidak berubah, kita memperbanyak shalawat, tetapi lisan kita masih mudah menyakiti,  kita memuji Rasulullah ﷺ, tetapi kepada pasangan kita kasar, Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ, tetapi kepada tetangga kita tidak peduli, danJangan sampai kita berbicara tentang sunnah Rasulullah ﷺ, tetapi ketika berbeda pendapat kita mudah menghina dan merendahkan.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Maulid yang bermakna bukan hanya membuat kita lebih banyak mengetahui kisah Rasulullah ﷺ.

Namun Maulid yang bermakna adalah ketika kisah itu mengubah sikap kita.

Pertama: Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Mengubah Lisan Kita

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu akhlak yang sangat penting adalah menjaga lisan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.”
(Muttafaq ‘alaih)

Hadis ini semakin relevan pada zaman kita.

Dahulu seseorang mungkin menyakiti orang lain dengan lisannya.

Sekarang seseorang dapat menyakiti ribuan orang hanya dengan jari-jarinya.

Satu komentar, unggahan, satu pesan di grup, Satu video, Satu berita yang belum tentu benar. Semua dapat menyebar dalam hitungan detik.

Oleh Karena itu, jika kita benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, mari kita bawa akhlak beliau ke dunia digital.

Sebelum menulis, pikirkan. Sebelum membagikan, periksa.

dan Sebelum berkomentar, pertimbangkan. Bahkan Sebelum membuka aib orang lain, ingat bahwa kita juga memiliki aib yang ditutupi Allah.

Jangan mudah menghina, mudah menuduh, mudah menyebarkan kebencian, dan Jangan menjadikan media sosial sebagai tempat melampiaskan kemarahan.

Jika tidak mampu berkata baik, diamlah.

Itulah salah satu bentuk sederhana meneladani akhlak Rasulullah ﷺ.

Kedua: Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Mengubah Cara Kita Memperlakukan Keluarga

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rumah adalah tempat pertama untuk membuktikan cinta kita kepada Rasulullah ﷺ.

Tidak ada gunanya seseorang terlihat sangat santun di depan orang lain, tetapi kasar kepada keluarganya.

Tiada  gunanya seseorang berbicara lembut di masjid, tetapi membentak istri dan anak-anaknya di rumah.

serta Tidak ada gunanya seseorang pandai memberikan nasihat kepada masyarakat, tetapi orang tuanya sendiri merasa jauh darinya.

Rasulullah ﷺ mengajarkan kasih sayang.

Beliau memperlakukan keluarga dengan penuh kelembutan.

Maka mari kita bertanya:

Apakah keluarga kita merasakan akhlak Rasulullah ﷺ melalui diri kita?

Ketika anak melakukan kesalahan, apakah kita langsung membentak atau mendidiknya dengan kasih sayang?

dan ketika pasangan melakukan kesalahan, apakah kita langsung merendahkan atau mengingatkannya dengan kelembutan?

serta Ketika orang tua kita mulai tua dan banyak membutuhkan bantuan, apakah kita bersabar atau justru merasa terganggu?

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kalau cinta kepada Rasulullah ﷺ benar-benar hidup dalam hati, maka rumah kita seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kasih sayang.

Ketiga: Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Mengajarkan Kita untuk Memaafkan

Allah Swt. berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian?”
(QS. An-Nur: 22)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan.

Kita pernah disakiti.

Tetapi kita juga pernah menyakiti.

Kita pernah mengecewakan orang lain.

Tetapi kita juga pernah mengecewakan orang lain.

Karena itu, jangan merasa bahwa hanya kita yang selalu menjadi korban.

Terkadang kita harus belajar mengatakan:

“Saya maafkan.”

Bukan karena kesalahan itu benar.

juga Bukan karena kita lemah.

Tetapi karena kita ingin mendapatkan ampunan Allah.

Memaafkan bukan berarti melupakan semua kejadian.

namun, Memaafkan berarti kita tidak membiarkan luka menguasai hati kita.

Dan inilah akhlak yang perlu kita hidupkan kembali di tengah keluarga dan masyarakat.

Keempat: Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Melahirkan Kasih Sayang

Allah Swt. berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

“Kami tidak mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)

Rasulullah ﷺ datang membawa rahmat.

Karena itu, seorang Muslim seharusnya menjadi sumber keamanan dan kebaikan.

Orang miskin merasa terbantu.

Tetangga merasa aman.

Anak-anak merasa disayangi.

Orang tua merasa dihormati.

Teman merasa dihargai.

Bahkan orang yang berbeda pendapat pun tetap merasa dihormati.

Jangan sampai kita menggunakan nama agama untuk menyebarkan kebencian.

Dakwah seharusnya mengajak manusia mendekat kepada Allah, bukan membuat manusia menjauh karena buruknya akhlak kita.

Kebenaran tetap harus disampaikan.

Tetapi kebenaran harus disampaikan dengan hikmah, ilmu, dan akhlak.

Kelima: Cinta kepada Rasulullah ﷺ Harus Mengubah Cara Kita Menghadapi Perbedaan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kita hidup di tengah masyarakat yang beragam.

Perbedaan pendapat adalah bagian dari kehidupan.

Tetapi perbedaan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci.

Kita boleh berbeda pilihan.

Boleh berbeda pandangan dalam masalah tertentu.

serta Boleh mengikuti guru dan ulama yang berbeda.

Namun jangan sampai perbedaan membuat kita memutus persaudaraan.

Jangan sampai kita merasa:

“Kalau tidak sama dengan saya, berarti dia musuh saya.”

Tidak demikian akhlak Rasulullah ﷺ.

Seorang Muslim harus memiliki ilmu untuk berbeda dan akhlak untuk menghormati.

Sebab persatuan umat tidak selalu berarti semua orang harus memiliki pendapat yang sama.

Persatuan berarti kita mampu menjaga persaudaraan meskipun terdapat perbedaan.

Maulid Jangan Berhenti sebagai Seremonial

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Mari kita renungkan dengan jujur.

Kita bisa saja mengadakan Maulid dengan acara yang sangat meriah, bisa menghiasi masjid, bisa memperbanyak shalawat, bisa menghadirkan penceramah, bisa mendengarkan kisah Rasulullah ﷺ.

Semua itu dapat menjadi sarana kebaikan.

Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

Setelah acara Maulid selesai, apakah kita menjadi manusia yang lebih baik?

Kalau sebelumnya kita mudah marah, apakah sekarang lebih sabar?

sebelumnya kita sulit memaafkan, apakah sekarang lebih lapang dada?

Kalau sebelumnya kita suka mencela, apakah sekarang lebih menjaga lisan?

sebelumnya hubungan dengan saudara renggang, apakah sekarang kita berusaha memperbaikinya?

Kalau sebelumnya kita sering menyebarkan berita tanpa memeriksa, apakah sekarang kita lebih berhati-hati?

sebelumnya kita kasar kepada keluarga, apakah sekarang kita menjadi lebih lembut?

Inilah makna penting Maulid: perubahan.

Jangan biarkan Rabiul Awal berlalu tanpa ada satu akhlak kita yang berubah.

Mari Membawa Akhlak Rasulullah ﷺ dari Masjid ke Kehidupan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setelah khutbah ini selesai, kita akan kembali ke rumah.

Maka bawalah satu pesan:

Bawalah akhlak Rasulullah ﷺ ke rumah.

Ketika bertemu pasangan, berikan senyum.

bertemu anak, berikan kasih sayang.

Ketika bertemu orang tua, berikan penghormatan.

bertemu tetangga, berikan salam.

Ketika bekerja, jadilah orang yang amanah.

berdagang, jadilah orang yang jujur.

Ketika berbeda pendapat, jagalah adab.

marah, tahan lisan.

Ketika disakiti, belajarlah memaafkan.

melihat kesalahan orang lain, jangan terburu-buru membuka aibnya.

Dan ketika menggunakan media sosial, ingat bahwa setiap tulisan kita akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Dari Shalawat Menuju Akhlak

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Rabiul Awal adalah momentum untuk kembali bertanya kepada diri kita:

Seberapa besar cinta kita kepada Rasulullah ﷺ?

Jawabannya bukan hanya dengan ucapan, tetapi jawabannya adalah dengan perubahan.

Dari lisan yang kasar menjadi lembut.

hati yang penuh dendam menjadi pemaaf.

kesombongan menjadi kerendahan hati.

permusuhan menjadi persaudaraan.

kebencian menjadi kasih sayang.

sekadar mengenal Rasulullah ﷺ menjadi berusaha mengikuti akhlak Rasulullah ﷺ.

Maka mari kita jadikan Maulid Nabi Muhammad ﷺ bukan sekadar perayaan, tetapi momentum perubahan.

Jangan hanya mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ.

Hidupkan akhlaknya.

Jangan hanya memperbanyak shalawat dengan lisan.

Buktikan cintanya melalui perbuatan.

Jangan hanya mengagumi perjuangan Rasulullah ﷺ.

Lanjutkan nilai-nilai perjuangan beliau dalam kehidupan kita.

Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukanlah:

“Seberapa meriah kita memperingati Maulid?”

Tetapi:

“Seberapa jauh cinta kepada Rasulullah ﷺ telah mengubah akhlak kita?”

Semoga Allah menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, mengikuti sunnahnya, meneladani akhlaknya, dan dikumpulkan bersama beliau di akhirat kelak.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah II 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

By: Mukhlis Zarkasdi

Baca Juga :

Sarung Wadimor Motif Murah

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *