Khutbah Jum’at: Dosa yang Dianggap Biasa di Era Digital: Jari-Jemari Kecil Pertanggungjawaban Besar

🕌Dosa yang Dianggap Biasa di Era Digital: Jari-Jemari Kecil, Pertanggungjawaban Besar

Durasi: ±15 menit | Bahasa sederhana, reflektif, dan menyentuh hati

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Marilah kita manfaatkan kehidupan yang masih Allah berikan untuk memperbanyak amal saleh, memperbaiki akhlak, dan mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Pernahkah kita memperhatikan kehidupan kita sendiri? Ketika belum memiliki pekerjaan, kita berdoa agar mendapatkan pekerjaan. Setelah mendapatkan pekerjaan, kita ingin gaji yang lebih besar. dan Setelah penghasilan meningkat, kita ingin rumah yang lebih bagus. serta  Setelah memiliki rumah, kita ingin kendaraan yang lebih mahal. Setelah semua itu tercapai, ternyata masih ada keinginan lain yang belum terpenuhi.

Akhirnya, kita terus berlari. Kita mengejar sesuatu, lalu mengejar sesuatu yang lain. Kita merasa bahagia sebentar ketika mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi tidak lama kemudian hati kembali merasa kurang.

Pertanyaannya, sampai kapan kita akan terus berlari jika keinginan kita tidak pernah berhenti?

Saudaraku, mencari rezeki, membangun rumah, menyekolahkan anak, memperbaiki kehidupan, dan meraih kesuksesan bukanlah sesuatu yang salah. Islam justru mengajarkan umatnya untuk bekerja keras, bertanggung jawab, dan mencari rezeki yang halal.

Namun, persoalannya muncul ketika kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mensyukuri nikmat yang sudah ada. Kita terlalu sering melihat kehidupan orang lain hingga lupa menikmati kehidupan sendiri. Kita begitu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki hingga tidak sempat menghargai apa yang telah Allah berikan.

Karena itu, khutbah Jumat hari ini mengangkat tema: Hidup Sederhana, Hati Kaya: Seni Merasa Cukup di Tengah Perlombaan Dunia.

Pertama, jangan sampai perlombaan dunia membuat kita lupa tujuan hidup

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Allah Swt. mengingatkan kita dalam Surah At-Takatsur ayat 1–2:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ ۝ حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Artinya:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Ayat ini mengingatkan kita tentang manusia yang terus berlomba memperbanyak harta, membanggakan kedudukan, dan mengumpulkan sesuatu demi mengungguli orang lain, hingga lupa bahwa kehidupan dunia memiliki batas.

Saudaraku,

Hari ini, perlombaan itu semakin terasa. Kita melihat tetangga membeli kendaraan baru, lalu merasa ingin memiliki yang lebih bagus. dan Kita melihat orang lain membangun rumah besar, lalu merasa rumah sendiri tidak lagi membanggakan. Kita melihat keberhasilan orang lain di media sosial, kemudian merasa kehidupan kita tertinggal.

Padahal, apa yang kita lihat dari kehidupan orang lain hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Kita melihat rumahnya, tetapi tidak mengetahui seluruh masalahnya. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak mengetahui perjuangannya. dan Kita melihat hartanya, tetapi tidak mengetahui kegelisahan yang mungkin disimpannya.

Akhirnya, kita mengukur kebahagiaan sendiri menggunakan ukuran kehidupan orang lain.

Kita bukan lagi menikmati apa yang kita miliki, melainkan gelisah karena orang lain memiliki sesuatu yang tidak kita miliki.

Jamaah rahimakumullah,

Jika ukuran kebahagiaan adalah selalu memiliki lebih banyak daripada orang lain, kita tidak akan pernah benar-benar merasa cukup. Akan selalu ada orang yang lebih kaya, lebih tinggi jabatannya, lebih bagus rumahnya, dan lebih banyak hartanya.

Karena itu, jangan jadikan kehidupan orang lain sebagai alasan untuk meremehkan nikmat yang Allah berikan kepada kita.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh. Berusahalah memperbaiki kehidupan. Namun, jangan sampai perlombaan dunia membuat kita lupa salat, mengabaikan keluarga, menghalalkan segala cara, dan kehilangan ketenangan hati.

Ingatlah, tujuan hidup bukan sekadar mengumpulkan sebanyak-banyaknya, melainkan memastikan bahwa apa yang kita kumpulkan membawa keberkahan dan mendekatkan kita kepada Allah.

Kedua, qanaah bukan berarti malas, melainkan tahu kapan harus merasa cukup

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Islam mengajarkan satu sifat mulia yang disebut qanaah, yaitu menerima karunia Allah dengan lapang dada, tidak diperbudak oleh keserakahan, dan tetap berusaha dengan cara yang benar.

Rasulullah saw. bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

Artinya:

“Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim, no. 1054).

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Perhatikan baik-baik, Rasulullah saw. tidak mengatakan bahwa orang yang beruntung hanyalah orang yang memiliki harta melimpah. Beliau mengajarkan bahwa keberuntungan juga terletak pada kecukupan dan hati yang merasa puas dengan pemberian Allah.

Ada orang yang hartanya banyak, tetapi selalu takut kehilangan. dan Ada yang penghasilannya tinggi, tetapi tidak pernah tenang. Ada yang memiliki banyak barang, tetapi masih merasa miskin ketika melihat kekayaan orang lain.

Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi mampu tersenyum bersama keluarganya. Ia bekerja dengan jujur, makan dari rezeki yang halal, menjalankan ibadah, dan tidur dengan hati yang tenang.

Bukan berarti kemiskinan harus dipertahankan atau kesulitan ekonomi tidak perlu diperbaiki. Orang yang kekurangan tetap berhak berjuang untuk kehidupan yang lebih baik. Orang yang memiliki cita-cita besar tetap boleh berusaha meraihnya.

Namun, jangan sampai dalam mengejar kehidupan yang lebih baik, kita kehilangan kemampuan untuk bersyukur atas kehidupan yang sedang dijalani.

Qanaah bukan berhenti berusaha. Qanaah adalah terus berusaha tanpa membiarkan keserakahan menguasai hati.

Kita boleh ingin memiliki rumah yang lebih layak, tetapi jangan sampai merendahkan orang yang rumahnya sederhana. dan Kita boleh ingin meningkatkan penghasilan, tetapi jangan sampai menghalalkan cara yang haram. Kita boleh memiliki cita-cita tinggi, tetapi jangan sampai mengorbankan salat, keluarga, dan kehormatan diri.

Jangan malu hidup sederhana selama rezeki kita halal. Jangan merasa rendah diri karena belum sekaya orang lain. Sebab, kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh mahalnya pakaian, tingginya jabatan, atau banyaknya kendaraan, tetapi oleh ketakwaan dan amalnya di sisi Allah.

Ketiga, kekayaan sejati adalah hati yang tidak diperbudak oleh harta

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Rasulullah saw. bersabda:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya:

“Kekayaan itu bukanlah karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini mengajak kita memahami bahwa kaya bukan hanya soal berapa banyak yang tersimpan di rekening, berapa luas rumah yang dimiliki, atau berapa mahal kendaraan yang digunakan.

Kekayaan yang sesungguhnya juga berkaitan dengan keadaan hati.

Apakah kita mampu bersyukur ketika mendapatkan rezeki? dan Apakah kita tetap jujur ketika memiliki kesempatan berbuat curang? dan Apakah kita tetap rendah hati ketika mendapatkan kedudukan? Apakah kita masih peduli kepada orang lain ketika kehidupan kita semakin baik?

Jamaah rahimakumullah,

Jangan sampai kita berhasil membangun rumah yang megah, tetapi gagal membangun keluarga yang harmonis. dan  Jangan sampai kita mampu membeli barang yang mahal, tetapi tidak mampu membeli kembali waktu yang telah hilang bersama anak-anak kita. Jangan sampai kita mendapatkan kedudukan tinggi, tetapi kehilangan kejujuran dan kepercayaan orang lain.

Harta dapat membeli tempat tidur yang mahal, tetapi tidak selalu menghadirkan tidur yang nyenyak. dan  Harta dapat membeli makanan yang lezat, tetapi tidak selalu menghadirkan ketenteraman. serta Harta dapat membuat seseorang dikenal banyak orang, tetapi tidak otomatis membuatnya dicintai dengan tulus.

Karena itu, jangan hanya memperkaya dompet, tetapi lupakan kekayaan hati. Jangan hanya memperbesar rumah, tetapi lupakan kasih sayang di dalamnya. Jangan hanya mengejar penghormatan manusia, tetapi lupakan kedudukan kita di hadapan Allah.

Orang yang kaya bukan hanya orang yang memiliki banyak hal, melainkan juga orang yang tidak kehilangan dirinya ketika mengejar banyak hal.

Keempat, syukur membuat nikmat sederhana terasa luar biasa

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sering kali kita baru menyadari berharganya sesuatu setelah kehilangannya.

Ketika sehat, kita menganggap kesehatan sebagai hal biasa. dan Ketika keluarga berkumpul, kita menganggap kebersamaan sebagai sesuatu yang selalu tersedia. serta Ketika masih bisa berjalan, bekerja, membaca Al-Qur’an, dan bersujud, kita terkadang lupa bahwa semua itu merupakan nikmat yang sangat besar.

Kita berdoa agar mendapatkan sesuatu yang belum dimiliki, tetapi jarang berdoa untuk mensyukuri sesuatu yang setiap hari kita nikmati.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Ibrahim ayat 7:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

Artinya:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.”

Syukur bukan hanya mengucapkan alhamdulillah. Syukur berarti menyadari bahwa nikmat berasal dari Allah dan menggunakannya untuk kebaikan.

Jika Allah memberi kesehatan, gunakan untuk beribadah. dan Jika Allah memberi harta, gunakan untuk menafkahi keluarga dan membantu sesama. serta Jika Allah memberi ilmu, gunakan untuk mengajar dan memberi manfaat. Jika Allah memberi kedudukan, gunakan untuk berlaku adil dan melayani masyarakat.

Saudaraku,

Cobalah sesekali melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Ketika merasa penghasilan belum banyak, ingatlah bahwa masih ada orang yang sedang berjuang mendapatkan pekerjaan. dan Ketika merasa rumah belum bagus, ingatlah bahwa masih ada orang yang mendambakan tempat berteduh. serta Ketika merasa hidup belum sempurna, ingatlah bahwa tidak ada manusia yang menjalani kehidupan tanpa ujian.

Bukan untuk meremehkan kesulitan orang lain, melainkan agar kita tidak buta terhadap nikmat sendiri.

Jangan menunggu kehilangan untuk bersyukur.  menunggu sakit untuk menghargai kesehatan. Jangan menunggu orang yang kita cintai tiada untuk menyadari betapa berharganya kehadiran mereka.

Mulailah menghargai apa yang ada, sembari terus berusaha memperbaiki apa yang belum sempurna.

Kelima, jangan sampai kita sibuk mencari dunia, tetapi kehilangan kehidupan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri dengan jujur.

Untuk apa kita bekerja keras setiap hari? Bukankah agar keluarga hidup lebih baik? Namun, bagaimana jika demi memberikan kehidupan yang lebih baik, kita justru tidak punya waktu untuk keluarga?

Untuk apa kita mengumpulkan harta? Bukankah agar hidup lebih tenang? Namun, bagaimana jika semakin banyak harta yang kita kumpulkan, semakin besar pula ketakutan kita untuk kehilangan?

Untuk apa kita mengejar kedudukan? Bukankah agar dapat memberikan manfaat? Namun, bagaimana jika jabatan justru membuat kita sombong dan merendahkan orang lain?

Saudaraku, jangan sampai alat untuk mencapai kebahagiaan berubah menjadi penyebab hilangnya kebahagiaan itu sendiri.

Dunia ini penting, tetapi bukan segalanya. Harta diperlukan, tetapi bukan tujuan akhir. Kesuksesan patut diperjuangkan, tetapi tidak boleh dibayar dengan kehilangan iman dan akhlak.

Kita perlu bekerja, tetapi jangan melupakan ibadah. dan Kita perlu mencari nafkah, tetapi jangan mengabaikan keluarga. serta Kita boleh menikmati rezeki, tetapi jangan melupakan orang yang membutuhkan pertolongan.

Hiduplah sesuai kemampuan. Bedakan kebutuhan dengan keinginan. Kurangi kebiasaan membandingkan diri. Berhentilah merasa gagal hanya karena pencapaian kita berbeda dengan pencapaian orang lain.

Dan yang paling penting, jangan mengukur keberhasilan hanya dari apa yang terlihat oleh manusia.

Boleh jadi kehidupan kita tampak sederhana, tetapi penuh keberkahan. Dan Boleh jadi penghasilan kita tidak sebesar orang lain, tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga dengan cara yang halal. serta Boleh jadi nama kita tidak dikenal banyak orang, tetapi kebaikan kita dirasakan oleh orang-orang di sekitar.

Bukankah itu juga sebuah keberhasilan?

Jamaah rahimakumullah,

Pada akhirnya, kita tidak akan membawa seluruh harta yang kita kumpulkan ke dalam kubur. Rumah yang kita banggakan akan ditempati orang lain. Kendaraan yang kita rawat akan berpindah tangan. Jabatan yang kita perjuangkan akan digantikan orang lain.

Karena itu, jangan habiskan seluruh kehidupan untuk mengejar sesuatu yang akhirnya kita tinggalkan, lalu melupakan amal yang akan kita bawa menghadap Allah.

Bekerjalah untuk kehidupan dunia, tetapi jangan lupakan akhirat. Carilah rezeki sebanyak yang mampu kita usahakan, tetapi jagalah hati agar tidak menjadi budak harta. Nikmatilah karunia Allah, tetapi jangan pernah lupa bersyukur kepada-Nya.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, mampu merasa cukup, tetap semangat berusaha, dan tidak diperbudak oleh gemerlap dunia.

بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.

أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

(Khatib duduk sejenak di antara dua khutbah.)

Khutbah II 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

By: Mukhlis Zarkasdi

Baca Juga :

Sarung Wadimor Motif Murah

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *