Oleh: Muhammad Hifdzil Azziqry
Di era digital, kita menghadapi sebuah paradoks: akses terhadap Al-Qur’an tidak pernah semudah hari ini, tetapi meluangkan waktu untuk membacanya justru terasa semakin sulit. Kita bisa menghabiskan berjam-jam di media sosial, tetapi membaca Al-Qur’an selama sepuluh menit saja terkadang terasa berat.
Mengapa kita begitu mudah menyediakan waktu untuk menatap layar, tetapi begitu sulit menyediakan waktu untuk membaca firman Allah?
Allah Swt. telah mengingatkan hakikat kemudahan Al-Qur’an sejak lebih dari 14 abad yang lalu:
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Qamar: 17)
Ayat ini diulang empat kali dalam Surah Al-Qamar. Sebuah pengingat bahwa Al-Qur’an telah dimudahkan untuk dipelajari dan diambil pelajarannya. Lalu, jika Al-Qur’an telah dimudahkan, mengapa kita masih begitu sulit mendekatinya?
Jangan-jangan, persoalannya bukan karena Al-Qur’an sulit dibaca, melainkan karena kita semakin sulit menyediakan ruang untuknya di tengah kesibukan sehari-hari.
Akar Masalah: Bukan Krisis Waktu, tapi Krisis Prioritas
Stephen Covey memperkenalkan pembagian aktivitas berdasarkan tingkat kepentingan dan urgensinya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menempatkan Al-Qur’an pada kategori penting tetapi tidak mendesak. Akibatnya, tilawah terus ditunda karena kita lebih dahulu merespons notifikasi WhatsApp, membuka media sosial, atau melakukan berbagai aktivitas lain yang terasa lebih mendesak.
Padahal, Allah memuji orang-orang beriman yang senantiasa mengingat-Nya dalam berbagai keadaan:
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring…”
(QS. Ali Imran: 191)
Kita memiliki 1.440 menit dalam sehari. Namun, mengapa sepuluh menit untuk membaca Al-Qur’an saja terasa begitu sulit disediakan?
Mungkin kita tidak kekurangan waktu. Kita hanya belum cukup tegas menentukan apa yang seharusnya menjadi prioritas. Sebab, sesuatu yang terus-menerus kita tunda, meskipun penting, pada akhirnya bisa tersisih oleh hal-hal yang sebenarnya tidak lebih penting.
Lantas, bagaimana agar membaca Al-Qur’an tidak sekadar menjadi niat yang berulang kali diucapkan, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan?
Berikut tiga langkah sederhana yang bisa kita mulai.
1. Prinsip Kaizen dan Istiqamah: Mulai dari Micro-Habit
James Clear, melalui bukunya Atomic Habits, menjelaskan bahwa perubahan besar dapat dibangun melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Prinsip ini sejalan dengan ajaran Rasulullah saw.:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Karena itu, jangan langsung membebani diri dengan target membaca satu juz setiap hari jika hal tersebut terasa berat. Mulailah dengan satu halaman, atau beberapa ayat yang dapat dibaca secara konsisten.
Jangan meremehkan kebiasaan kecil. Satu halaman yang dibaca setiap hari jauh lebih baik daripada target besar yang hanya bertahan beberapa hari, lalu berhenti sama sekali.
Kuncinya bukan seberapa banyak kita membaca pada hari pertama, melainkan apakah kita bersedia kembali membaca pada hari berikutnya. Dari kebiasaan kecil yang terjaga, tilawah perlahan dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
2. Habit Stacking: Menempelkan Tilawah pada Salat
B.J. Fogg, melalui pendekatan pembentukan perilaku, menjelaskan bahwa kebiasaan baru dapat dibangun dengan mengaitkannya pada rutinitas yang sudah dilakukan. Dalam praktiknya, salat dapat menjadi pengingat yang kuat untuk membiasakan tilawah.
Allah berfirman:
“Sungguh, salat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa: 103)
Rutinitas salat yang kita jalankan setiap hari dapat menjadi kesempatan untuk membangun kebiasaan membaca Al-Qur’an. Kita tidak harus menunggu waktu luang yang panjang. Cukup tetapkan waktu yang realistis dan lakukan secara konsisten.
Formula praktisnya sederhana:
“Setelah salam salat, saya akan membaca satu halaman Al-Qur’an sebelum membuka HP.”
Kita juga dapat memanfaatkan waktu setelah Subuh atau Magrib, sesuai dengan rutinitas masing-masing. Yang terpenting, jangan biarkan niat membaca Al-Qur’an terus dikalahkan oleh kebiasaan membuka ponsel terlebih dahulu.
Allah berfirman:
“Maka apabila engkau telah selesai (dari suatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain).”
(QS. Al-Insyirah: 7)
Ayat ini berbicara tentang kesungguhan melanjutkan amal setelah menyelesaikan suatu urusan. Dalam konteks membangun kebiasaan, kita dapat mengambil pelajaran untuk tidak membiarkan waktu berlalu tanpa mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat.
3. Rekayasa Lingkungan: Jadikan Al-Qur’an Mudah Dijangkau
Kebiasaan tidak hanya dipengaruhi oleh niat, tetapi juga oleh lingkungan. Jika ponsel selalu berada di dekat kita, sementara mushaf tersimpan di dalam lemari, tidak mengherankan jika tangan lebih mudah meraih ponsel daripada membuka Al-Qur’an.
Karena itu, cobalah mengubah lingkungan agar lebih mendukung kebiasaan tilawah. Letakkan mushaf di atas sajadah, di meja kerja, atau di tempat yang mudah terlihat. Kurangi hambatan untuk membaca dan jangan biarkan distraksi mengambil alih perhatian kita.
Rasulullah saw. bersabda:
“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”
(HR. Muslim)
Beliau juga bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.”
(HR. Bukhari)
Kedua hadis ini mengingatkan kita tentang keutamaan membaca, mempelajari, dan mengajarkan Al-Qur’an. Maka, mendekatkan mushaf bukan sekadar mengatur benda di sekitar kita, melainkan juga menciptakan lingkungan yang membantu kita menjaga hubungan dengan kitab suci.
Jangan hanya mengandalkan niat. Aturlah lingkungan agar niat baik lebih mudah diwujudkan.
Dari Membaca Teks Menjadi Gaya Hidup
Ibnu Qayyim dikenal dengan ungkapan yang menggambarkan Al-Qur’an sebagai hidangan Allah bagi manusia di bumi. Ungkapan ini mengajak kita melihat Al-Qur’an bukan sekadar bacaan, melainkan sumber petunjuk dan kebaikan yang perlu kita dekati.
Karena itu, jangan menunggu sampai memiliki banyak waktu luang untuk membaca Al-Qur’an. Di tengah kesibukan, justru kita perlu sengaja menyediakan waktu untuknya. Mulailah dari kebiasaan kecil, kaitkan dengan rutinitas salat, dan ciptakan lingkungan yang mendukung.
Allah berfirman:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Ayat ini berbicara tentang janji Allah kepada orang yang bertakwa. Ia bukan jaminan bahwa membaca Al-Qur’an akan membuat semua urusan dunia langsung mudah, tetapi pengingat agar kita menjalani kehidupan dengan takwa dan menjadikan petunjuk Allah sebagai pegangan.
Mari mulai hari ini. Tidak harus langsung satu juz. Cukup satu halaman yang dibaca dengan sungguh-sungguh, kemudian lanjutkan esok hari.
Sebab, yang perlu kita ubah bukan hanya jumlah ayat yang dibaca, melainkan juga kebiasaan yang selama ini membuat kita terus menundanya.
Jangan sampai kita selalu punya waktu untuk banyak hal, tetapi terus berkata tidak punya waktu untuk Al-Qur’an.
Baca Juga:

- Khutbah Jum’at Maulid Nabi: Meneladani Rasulullah, Jalan Keluar dari Krisis Moral
- Khutbah Jum’at Maulid sebagai Inspirasi Persatuan Umat di Tengah Perpecahan
- Tua Bukan Berarti Usang: Makna Hidup Lansia di Era Modern
- Masjid, Madrasah, dan Media: 3 Pilar Edukasi Islam yang Harus Berjalan Bersama
- Download RPP RA, MI, MTs, dan MA Kurikulum Berbasis Cinta
- Download Pemetaan CP Kurikulum Berbasis Cinta Semua Fase RA, MI, MTs, dan MA
- Pendaftaran Santri Baru 2026: Kelas Qiro’at Sab’ah untuk Pemula Rumah Tilawah Nurul Hikmah
- Download Buku Al-Qur’an Hadist Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku Akidah Akhlak Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku Fikih Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku Bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku SKI Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku Al-Qur’an Hadist Madrasah Tsanawiyah (MTS)
- Download Buku Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah (MTS)
- Download Buku Fikih Madrasah Tsanawiyah (MTS)
- Download Buku Bahasa Arab Madrasah Tsanawiyah (MTS)
- Download Buku SKI Madrasah Tsanawiyah (MTS)


