Khutbah Jumat: Akhlak Rasulullah ﷺ sebagai Jalan Keluar dari Krisis Persaudaraan Umat

Khutbah Jumat: Akhlak Rasulullah ﷺ sebagai Jalan Keluar dari Krisis Persaudaraan Umat

KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله رب العالمين، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له ومن يضلل فلا هادي له.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أما بعد، فيا عباد الله، أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فقد فاز المتقون.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam banyaknya ibadah yang kita kerjakan, tetapi juga tercermin dalam bagaimana kita memperlakukan sesama manusia.

Pada kesempatan yang mulia ini, marilah kita merenungkan sebuah persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan kita, yaitu krisis persaudaraan umat.

Hari ini kita hidup di zaman yang sangat maju. Teknologi berkembang begitu cepat. Komunikasi menjadi begitu mudah. Jarak yang jauh terasa dekat. Hanya dengan sebuah telepon genggam, kita dapat berbicara dengan siapa saja dan mengetahui berbagai peristiwa di berbagai belahan dunia.

Namun, jamaah yang dimuliakan Allah,

Di tengah kemajuan itu, ada sesuatu yang justru harus kita khawatirkan: mengapa hati manusia terkadang semakin jauh?

Kita dapat dengan mudah mengirim pesan kepada orang yang jauh, tetapi terkadang sulit menyapa tetangga yang dekat. Kita dapat dengan cepat membagikan informasi, tetapi terkadang tidak sempat memeriksa kebenarannya. dan Kita mudah memberikan komentar, tetapi tidak selalu memikirkan perasaan orang lain.

Bahkan, sesama Muslim terkadang mudah saling mencela, saling menyalahkan, saling memberi label, hanya karena berbeda pilihan, berbeda organisasi, berbeda pandangan, atau berbeda dalam persoalan yang sebenarnya tidak semestinya menjadi alasan untuk memutuskan persaudaraan.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Inilah salah satu tantangan besar umat Islam pada zaman kita: krisis akhlak yang kemudian melahirkan krisis persaudaraan.

Karena itu, ketika kita memasuki bulan Rabiul Awal, bulan yang mengingatkan kita kepada sosok Rasulullah Muhammad ﷺ, hendaknya kita tidak hanya memperbanyak shalawat dengan lisan.

Kita juga perlu bertanya kepada diri sendiri:

Sudahkah akhlak Rasulullah ﷺ hidup dalam diri kita?

adakah kelembutan beliau ada dalam cara kita berbicara?

dan Sudahkah kasih sayang beliau ada dalam keluarga kita?

serta Sudahkah sikap pemaaf beliau ada ketika kita disakiti?

Dan sudahkah persaudaraan yang beliau ajarkan menjadi bagian dari kehidupan kita?

Rasulullah ﷺ Diutus untuk Menyempurnakan Akhlak

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Salah satu misi penting diutusnya Rasulullah ﷺ adalah menyempurnakan akhlak manusia.

Dalam sebuah hadis disebutkan:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.”

pertama, Akhlak bukan perkara kecil dalam Islam. kedua, Akhlak juga bukan sekadar sopan santun. ketiga, Akhlak bukan hanya tersenyum ketika bertemu orang lain. tetapi Akhlak adalah bagian penting dari kesempurnaan agama seseorang.

Seseorang mungkin memiliki banyak ilmu, tetapi jika ilmunya membuatnya sombong dan suka merendahkan orang lain, maka ada persoalan besar pada akhlaknya.

Seseorang mungkin rajin beribadah, tetapi jika lisannya senang menghina, memfitnah, dan menyakiti orang lain, maka ia perlu kembali melakukan introspeksi.

Sebab, ilmu tanpa adab dapat melahirkan kesombongan, sedangkan ibadah tanpa akhlak dapat kehilangan pengaruhnya dalam kehidupan sosial.

Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa kemuliaan seorang Muslim tidak hanya terlihat dari hubungannya dengan Allah, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan manusia.

Karena itu, jangan sampai kita menjadi orang yang rajin beribadah tetapi mudah membenci.

Jangan sampai kita gemar bershalawat tetapi lisan kita masih senang menyakiti.

Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah ﷺ tetapi akhlak kita jauh dari akhlak beliau.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Ukuran kemuliaan seseorang bukanlah seberapa banyak ia memenangkan perdebatan.

Bukan pula seberapa banyak orang yang berhasil ia kalahkan dalam argumentasi.

Tetapi salah satu ukuran kemuliaannya adalah seberapa banyak orang merasa aman dari lisan dan tangannya.

Krisis Persaudaraan Umat pada Zaman Sekarang

Allah Swt. berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat: 10)

Perhatikan firman Allah ini.

Allah tidak mengatakan bahwa orang-orang beriman harus selalu memiliki pendapat yang sama.

Allah mengatakan:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”

Artinya, perbedaan tidak boleh menghapus persaudaraan.

Kita boleh berbeda pendapat.

boleh berbeda pilihan.

boleh berbeda organisasi.

dan  boleh berbeda cara dalam memahami persoalan yang memang memiliki ruang perbedaan.

Tetapi jangan sampai perbedaan tersebut membuat kita kehilangan adab.

Jangan sampai perbedaan membuat kita saling menghina.

Jangan sampai perbedaan membuat kita memutus silaturahmi.

Dan jangan sampai perbedaan membuat kita lupa bahwa orang yang berada di hadapan kita tetap saudara kita sesama Muslim.

Teladan Rasulullah ﷺ dalam Menjaga Persatuan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jika kita ingin mencari contoh terbaik tentang bagaimana menjaga persaudaraan, maka lihatlah kehidupan Rasulullah ﷺ.

Allah Swt. berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Pertama: Rasulullah ﷺ Mengajarkan Kelembutan

Allah Swt. berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka.”
(QS. Ali Imran: 159)

Jamaah yang dirahmati Allah,

Perhatikan betapa pentingnya kelembutan.

Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling kuat dalam menyampaikan kebenaran. Tetapi kekuatan dalam menyampaikan kebenaran tidak membuat beliau menjadi kasar.

Beliau tegas dalam prinsip, tetapi lembut dalam berinteraksi.

Inilah pelajaran penting bagi kita.

Tegas tidak harus kasar.

Berbeda pendapat tidak harus bermusuhan.

Mengoreksi kesalahan tidak harus menghina.

Dan menyampaikan kebenaran tidak harus merendahkan orang lain.

Kadang-kadang yang membuat seseorang menolak nasihat bukan karena nasihat itu salah, tetapi karena cara menyampaikannya membuat hatinya terluka.

Karena itu, mari kita belajar dari Rasulullah ﷺ.

Jika ingin memperbaiki keluarga, gunakan kelembutan.

ingin menasihati anak, gunakan kasih sayang.

jika ingin mengingatkan saudara, gunakan adab.

serta Jika ingin berdakwah, gunakan hikmah.

Kedua: Rasulullah ﷺ Mengajarkan Memaafkan

Allah Swt. berfirman:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian?”
(QS. An-Nur: 22)

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada orang yang sanggup mengingat kesalahan orang lain selama bertahun-tahun.

Kesalahan itu sudah berlalu, tetapi masih disimpan dalam hati.

Peristiwa sudah selesai, tetapi kemarahan masih dipelihara.

Hubungan sudah seharusnya diperbaiki, tetapi ego berkata:

“Saya tidak akan pernah memaafkannya.”

Padahal kita semua berharap Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Maka Allah mengajarkan:

“Apakah kalian tidak suka bahwa Allah mengampuni kalian?”

Kalau kita ingin mendapatkan ampunan Allah, belajar pula untuk mengampuni.

Rasulullah ﷺ menunjukkan teladan luar biasa dalam memaafkan.

Ketika Fathu Makkah, orang-orang yang dahulu menyakiti, mengusir, dan memusuhi Rasulullah ﷺ berada dalam posisi yang sangat lemah.

Namun Rasulullah ﷺ tidak menjadikan kemenangan sebagai kesempatan untuk membalas dendam.

Inilah akhlak kenabian.

Memaafkan bukan tanda kelemahan. Memaafkan adalah kekuatan jiwa.

Ketiga: Rasulullah ﷺ Mengajarkan Persaudaraan di Atas Ego Golongan

Allah Swt. berfirman:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai-berai.”
(QS. Ali Imran: 103)

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Perbedaan di tengah umat adalah sesuatu yang harus kita sikapi dengan ilmu dan adab.

Yang menjadi masalah bukan semata-mata adanya perbedaan.

Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan berubah menjadi kebencian.

Kita membela kelompok kita meskipun salah.

ada yang menolak nasihat hanya karena datang dari kelompok yang berbeda.

Kita menganggap diri paling benar dan orang lain selalu salah.

Inilah yang harus kita waspadai.

Jangan sampai fanatisme kepada kelompok mengalahkan kecintaan kita kepada persaudaraan Islam.

Kita boleh mencintai guru kita.

boleh menghormati ulama kita.

dan boleh mengikuti organisasi dan jamaah yang kita yakini.

Tetapi jangan sampai kecintaan itu membuat kita merendahkan Muslim lainnya.

Sebab sebelum kita berbeda organisasi, kita adalah Muslim.

Sebelum kita berbeda pilihan, kita adalah saudara.

Dan sebelum kita berbeda pendapat, kita memiliki Tuhan yang sama, kiblat yang sama, kitab yang sama, dan Nabi yang sama.

Penyakit yang Merusak Ukhuwah

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Ada beberapa penyakit yang harus kita jauhi jika ingin membangun kembali persaudaraan umat.

Pertama, fanatisme buta.

Fanatisme membuat seseorang membela kelompoknya meskipun kelompoknya melakukan kesalahan.

Islam mengajarkan kita untuk membela kebenaran, bukan membela kesalahan karena siapa yang melakukannya.

Kedua, ghibah dan fitnah.

Hari ini, ghibah tidak hanya terjadi dalam percakapan.

Ghibah dapat terjadi melalui tulisan.

Melalui komentar, unggahan maupun Melalui video.

Bahkan melalui satu tombol “bagikan”.

Kadang-kadang jari kita lebih cepat daripada akal kita.

Kita membagikan sesuatu tanpa memeriksa kebenarannya.

Kita menyebarkan aib orang lain tanpa mengetahui duduk persoalannya.

Padahal Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita agar seorang Muslim menjaga lisan dan perbuatannya.

Maka sebelum menulis sesuatu di media sosial, bertanyalah:

Apakah ini benar?

dan Apakah ini bermanfaat?

atau Apakah ini perlu disampaikan?

Dan yang paling penting:

Apakah Allah ridha jika saya menyebarkannya?

Ketiga, merasa paling benar.

Orang yang merasa dirinya selalu benar akan sulit menerima nasihat.

Ia tidak lagi mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran.

Padahal manusia bisa salah.

Ulama bisa berbeda dalam persoalan tertentu.

Kita pun bisa keliru.

Karena itu, semakin tinggi ilmu seseorang seharusnya semakin tinggi pula adab dan kerendahan hatinya.

Keempat, mudah membenci.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Kita hidup di zaman ketika kebencian sangat mudah disebarkan.

Satu komentar dapat memancing ribuan komentar.

Satu penghinaan dapat dibalas dengan penghinaan yang lebih keras.

Jika tidak hati-hati, media sosial berubah menjadi tempat memperbesar permusuhan.

Maka jadilah Muslim yang menghadirkan ketenangan, bukan menambah kegaduhan.

Jadilah orang yang ketika berbicara, orang lain merasa aman.

Ketika menulis, orang lain mendapatkan manfaat.

Ketika berbeda pendapat, orang lain tetap merasa dihormati.

Menghidupkan Akhlak Rasulullah ﷺ dalam Kehidupan

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Jika kita ingin memperbaiki persaudaraan umat, jangan menunggu orang lain berubah.

Mulailah dari diri kita sendiri.

Di dalam keluarga, mari belajar lebih banyak memaafkan daripada menyalahkan.

Kepada pasangan, mari memperbanyak kata-kata yang baik.

anak anak, mari mendidik dengan kasih sayang.

dan orang tua, mari memperbanyak penghormatan.

Di tengah masyarakat, mari membiasakan salam, senyum, dan saling membantu.

Di masjid, jangan biarkan perbedaan kecil menghilangkan persaudaraan.

Dan di media sosial, mari kita ingat satu prinsip sederhana:

Kalau tidak mampu menulis sesuatu yang baik, lebih baik kita diam.

Sebab satu kalimat dari jari kita mungkin terlihat sederhana, tetapi bisa melukai hati seseorang.

Satu unggahan mungkin hanya membutuhkan beberapa detik untuk dibuat, tetapi dampaknya bisa bertahun-tahun.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Rabiul Awal hendaknya menjadi momentum untuk kembali mengenal Rasulullah ﷺ.

Bukan hanya mengenal sejarah kelahiran beliau.

Bukan hanya memperbanyak shalawat di lisan.

Tetapi juga menghidupkan akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan kita.

Jika kita benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, mari kita belajar menjadi manusia yang lembut.

Mari menjadi manusia yang pemaaf.

menjaga lisan.

menjaga tulisan.

Mari menghormati perbedaan.

Mari memperkuat silaturahmi.

Dan mari berhenti menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Persatuan umat tidak selalu membutuhkan keseragaman pendapat.

Persatuan membutuhkan akhlak.

Kita mungkin berbeda dalam banyak hal, tetapi jangan berbeda dalam kasih sayang.

mungkin berbeda dalam pilihan, tetapi jangan berbeda dalam persaudaraan.

dan mungkin berbeda dalam pendapat, tetapi jangan kehilangan adab.

Sebab krisis persaudaraan umat tidak akan selesai dengan caci maki, kebencian, dan permusuhan.

Krisis itu hanya dapat kita hadapi dengan kembali menghidupkan akhlak Rasulullah ﷺ: kasih sayang, kelembutan, sikap pemaaf, kerendahan hati, dan semangat persatuan.

Semoga Allah menjadikan kita umat yang benar-benar mencintai Rasulullah ﷺ, bukan hanya dengan lisan, tetapi dengan akhlak dan perbuatan.

أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah II 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

By: Mukhlis Zarkasdi

Baca Juga :

Sarung Wadimor Motif Murah

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *