Khutbah Jumat: Ada yang Tubuhnya Hidup tetapi Hatinya Sudah Mati

Ketika hati kehilangan rasa takut kepada Allah, dosa terasa biasa, dan nasihat tidak lagi menyentuh jiwa

KHUTBAH PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya.

Pada hari yang mulia ini, marilah kita berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan. Untuk beberapa saat, lepaskan pikiran dari pekerjaan, perdagangan, jabatan, urusan keluarga, dan berbagai persoalan dunia yang memenuhi kepala kita.

Kemudian, arahkan perhatian kepada sesuatu yang sering kita lupakan: hati kita sendiri.

Bagaimana keadaannya hari ini?

Apakah masih lembut ketika mendengar ayat Allah?

Apakah masih gelisah ketika melakukan dosa?

Ataukah masih mudah tersentuh ketika mendapatkan nasihat?

Ataukah hati itu perlahan mulai kehilangan kepekaannya?

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kita sering memeriksa kesehatan tubuh kita.

Ketika badan terasa tidak nyaman, kita mencari obat. Ketika tekanan darah meningkat, kita segera berhati-hati. sampai Ketika tubuh terasa lemah, kita berusaha memulihkan tenaga.

Namun, pernahkah kita memeriksa kesehatan hati?

Bisa jadi tubuh masih sehat, tetapi hati mulai sakit.

Aktivitas pekerjaan tetap berjalan, tetapi semangat beribadah justru semakin melemah.

Lisan masih mampu membaca Al-Qur’an, tetapi pesan yang dibaca tidak lagi menggetarkan jiwa.

Telinga pun masih mendengar nasihat setiap Jumat, namun setelah meninggalkan masjid, kehidupan berjalan seperti biasa tanpa perubahan.

Di sinilah kita perlu berhenti dan merenung:

“Jangan-jangan yang perlu kita periksa hari ini bukan kesehatan tubuh kita, melainkan kesehatan hati kita?”

Sebab seseorang dapat terlihat hidup di hadapan manusia, tetapi sebenarnya sedang mengalami kematian hati di hadapan Allah.

Kehidupan Tidak Hanya Tentang Bernapas

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Kehidupan sering kali kita ukur dari sesuatu yang tampak.

Selama masih bernapas, seseorang disebut hidup.

Masih bekerja berarti produktif.

Memiliki harta dianggap berhasil.

Bisa tertawa dan berkumpul bersama banyak orang dipandang sebagai tanda kehidupan yang baik.

Padahal Islam mengajarkan bahwa manusia tidak hanya memiliki kehidupan jasmani. Ada pula kehidupan hati.

bahkan Allah SWT berfirman:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia…”

(QS. Al-An’am: 122)

Ayat tersebut mengingatkan bahwa kehidupan yang sesungguhnya bukan sekadar keberadaan jasad, tetapi juga kehidupan yang diterangi iman.

Hati menjadi tempat bersemayamnya kesadaran, rasa takut kepada Allah, keikhlasan, kasih sayang, rasa malu, penyesalan, dan ketundukan kepada-Nya.

Karena itu, persoalan terpenting bukan hanya:

“Apakah tubuh kita masih hidup?”

Melainkan:

“Apakah hati kita masih hidup di hadapan Allah?”

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Salah satu tanda hati mulai mati adalah ketika dosa tidak lagi membuat seseorang takut.

Kesalahan yang dahulu membuat hati gelisah, kini dilakukan tanpa rasa bersalah.

Perbuatan yang sebelumnya membuat kita malu, perlahan justru dianggap biasa.

Ghibah menjadi bahan percakapan.

Kebohongan berubah menjadi kebiasaan.

Fitnah dipandang sebagai hiburan.

Menipu disebut strategi.

Mengambil hak orang lain dianggap sebagai keuntungan.

Melihat sesuatu yang haram dianggap sebagai hal kecil.

Bahkan, ada kemaksiatan yang bukan hanya dilakukan, tetapi dengan bangga dipertontonkan kepada orang lain.

Kaum Muslimin Rahimakumullah,

Yang paling berbahaya bukan hanya ketika kita melakukan dosa. Yang lebih berbahaya adalah ketika dosa dilakukan, tetapi hati tidak lagi merasa bahwa itu adalah dosa.

Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ketika seorang mukmin melakukan dosa, muncul titik hitam pada hatinya. Apabila ia bertaubat, hatinya dibersihkan. Namun jika dosa terus dilakukan, titik hitam itu semakin bertambah.

Karena itu, jangan pernah menganggap remeh sebuah dosa yang kecil.

Dosa yang terus diulang dapat mengeraskan hati. Hati yang mengeras membuat seseorang semakin sulit menerima kebenaran.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Coba kita bertanya kepada diri sendiri dengan jujur.

Berapa banyak khutbah yang telah kita dengarkan?

Berapa banyak ayat Al-Qur’an yang pernah kita baca?

serta Berapa kali orang tua mengingatkan?

dan Berapa banyak nasihat guru yang pernah kita dengar?

Tidak sedikit pula teguran dari pasangan, sahabat, bahkan suara hati sendiri yang sebenarnya mengingatkan kita.

Namun, apakah semua itu telah melahirkan perubahan?

Pengetahuan tentang ghibah sebagai dosa tidak otomatis membuat seseorang berhenti menggunjing.

Pemahaman bahwa salat adalah kewajiban belum tentu membuat seseorang menjaga salatnya.

Kesadaran bahwa dusta itu haram tidak selalu menghentikan kebiasaan berbohong.

Pengetahuan bahwa hidup ini sementara pun tidak serta-merta membuat manusia berhenti mengejar dunia secara berlebihan.

Jamaah sekalian,

Nasihat yang hanya berhenti di telinga belum tentu menjadi hidayah. Nasihat akan menjadi cahaya ketika ia masuk ke hati dan melahirkan perubahan.

Maka jangan hanya bertanya, “Apa yang sudah kita dengar?”

tapi tanyalah:

“Apa yang sudah berubah dalam diri kita setelah mendengarnya?”

Kaum Muslimin Rahima Kumullah,

Hati yang mulai kehilangan kehidupan juga dapat terlihat dari cara seseorang menjalankan ibadah.

Salat tetap dikerjakan, tetapi kedekatan dengan Allah tidak semakin terasa.

Al-Qur’an masih dibaca, namun pesan yang terkandung di dalamnya jarang direnungkan.

Zikir masih terucap di lisan, tetapi setelah itu perilaku kembali kepada kebiasaan lama.

Masjid tetap didatangi, tetapi ketika kaki melangkah keluar, akhlak dan perilaku tidak banyak berubah.

Allah SWT berfirman:

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”

(QS. Al-‘Ankabut: 45)

Karena itu, jangan berhenti pada pertanyaan:

“Apakah kita sudah salat?”

Mari lanjutkan dengan pertanyaan yang lebih dalam:

“Apakah salat kita telah mengubah diri saya?”

Adakah kejujuran yang semakin kuat?

Sudahkah kesantunan tumbuh dalam perilaku?

Makin takutkah kita melakukan dosa?

Semakin pedulikah kita kepada sesama?

Sebab ibadah bukan sekadar gerakan anggota tubuh.

Ibadah yang benar seharusnya menghidupkan hati dan memperbaiki akhlak.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Ada saatnya manusia begitu takut kehilangan penilaian orang lain.

Jabatan dipertahankan mati-matian.

Pelanggan dijaga agar tidak pergi.

Keuntungan dikejar tanpa mengenal batas.

Kritik manusia begitu ditakuti.

Reputasi dijaga sedemikian rupa.

Namun pada saat yang sama, keberkahan justru kurang diperhatikan.

Kita khawatir manusia mengetahui kesalahan yang disembunyikan, padahal tidak ada satu pun perbuatan yang luput dari pengetahuan Allah.

Citra di hadapan manusia terkadang lebih kita jaga daripada keadaan hati di hadapan Allah.

Padahal keselamatan kita tidak ditentukan oleh seberapa baik manusia memandang kita.

Keselamatan ditentukan oleh bagaimana Allah memandang iman, hati, dan amal kita.

Jamaah yang dirahmati Allah,

Hati yang hidup akan melahirkan kepedulian.

Kesulitan orang lain mengetuk nurani.

Penderitaan tetangga menggerakkan tangan untuk membantu.

Ketika melihat seseorang dizalimi, muncul keberanian untuk membela dengan cara yang benar.

Kesalahan saudara tidak langsung menjadi bahan celaan, tetapi menjadi kesempatan untuk memberikan nasihat dengan kasih sayang.

Sebaliknya, hati yang keras perlahan kehilangan rasa peduli.

Penderitaan dianggap sebagai urusan orang lain.

Kemungkaran dibiarkan karena merasa bukan tanggung jawab pribadi.

Bahkan, kegagalan orang lain terkadang dijadikan bahan tertawaan.

Padahal seorang Muslim tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri.

Iman seharusnya membuat kita semakin peka, semakin peduli, dan semakin bermanfaat bagi sesama.

Mengapa Hati Bisa Mati?

Lalu, mengapa hati manusia dapat menjadi keras?

Ada beberapa sebab yang patut kita waspadai.

Pertama, terlalu banyak dosa dan terlalu sedikit taubat.

Dosa yang terus dilakukan tanpa penyesalan akan mengikis kepekaan hati.

Kedua, terlalu mencintai dunia dan melupakan akhirat.

Dunia memang perlu dicari, tetapi jangan sampai ia menjadi tujuan terakhir kehidupan.

Ketiga, terlalu sedikit mengingat Allah.

Hati membutuhkan zikir sebagaimana tubuh membutuhkan makanan.

Keempat, jauh dari Al-Qur’an.

Al-Qur’an bukan sekadar bacaan untuk mendapatkan pahala, tetapi petunjuk yang seharusnya membimbing kehidupan.

Kelima, lingkungan yang terus mendorong kemaksiatan.

Apa yang setiap hari dilihat, didengar, dan dilakukan bersama lingkungan dapat memengaruhi keadaan hati.

Keenam, merasa diri selalu benar.

Kesombongan membuat seseorang sulit menerima nasihat, bahkan ketika nasihat itu benar.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hati tidak mati dalam satu malam. Ia mati sedikit demi sedikit: ketika dosa dilakukan tanpa taubat, nasihat didengar tanpa perubahan, dan nikmat diterima tanpa syukur.

Karena itu, jangan menunggu hati benar-benar keras untuk kembali kepada Allah.

Allah SWT memberikan peringatan yang sangat kuat:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.”

(QS. Al-Hajj: 46)

Mata yang tidak dapat melihat masih bisa dibantu dengan alat.

Namun hati yang buta dapat membuat seseorang berjalan menuju kebinasaan tanpa menyadarinya.

Ketika hati mati, dosa terlihat kecil.

Kebenaran terasa berat.

Nasihat terasa mengganggu.

Ibadah terasa membebani.

Dunia menjadi tujuan utama.

Akhirat semakin terlupakan.

Inilah bahaya terbesar dari hati yang mati.

Maka, jangan hanya menjaga tubuh agar tetap sehat.

Jagalah hati agar tetap hidup.

Bagaimana Menghidupkan Kembali Hati?

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Ada kabar baik bagi kita semua.

Hati yang sakit masih dapat disembuhkan.

Hati yang keras masih dapat dilembutkan.

dan Hati yang jauh dari Allah masih dapat kembali.

Pintu itu bernama taubat.

Jangan menunggu usia tua untuk bertaubat.

Jangan menunggu sakit datang untuk kembali kepada Allah.

serta Jangan menunggu kehilangan seseorang untuk menyadari betapa berharganya keluarga.

dan Jangan pula menunggu kematian mendekat untuk memperbaiki amal.

Selama Allah masih memberikan umur, kesempatan untuk kembali masih terbuka.

Kemudian, dekatkan diri kepada Al-Qur’an. Bacalah dengan kesadaran, pahami pesannya, lalu berusaha mengamalkannya.

Perbanyak zikir dan mengingat kematian, sebab kesadaran bahwa hidup ini sementara akan membuat kita lebih berhati-hati.

Jaga salat dan hadirkan hati di dalamnya. Jadikan salat sebagai pertemuan seorang hamba dengan Rabb-nya, bukan sekadar kewajiban yang ingin segera diselesaikan.

Tinggalkan dosa yang telah menjadi kebiasaan. Jangan berlindung di balik kalimat, “Saya memang seperti ini.”

Ubahlah menjadi:

“Saya ingin berubah karena Allah.”

Carilah lingkungan yang baik. Bertemanlah dengan orang-orang yang mengingatkan kita kepada Allah, bukan yang membuat kita semakin jauh dari-Nya.

Belajarlah menerima nasihat. Tidak semua orang yang menegur sedang membenci kita. Bisa jadi, melalui teguran seseorang, Allah sedang menyelamatkan kita dari kesalahan yang lebih besar.

Terakhir, perbanyak amal kepada sesama.

Bantu orang yang membutuhkan.

Maafkan kesalahan.

Jaga lisan.

Jaga amanah.

dan Berbuat baik meskipun tidak ada manusia yang melihat.

Sebab kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas adalah salah satu jalan untuk melembutkan dan menghidupkan hati.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Sebelum khutbah pertama ini berakhir, mari kita melakukan pemeriksaan yang sering terlupakan.

Bukan pemeriksaan kesehatan tubuh.

Melainkan pemeriksaan kesehatan hati.

Dan pertanyaan yang paling penting:

“Jika Allah memanggil saya hari ini, apakah saya sudah siap menghadap-Nya?”

Jamaah sekalian,

Jangan sampai kita sibuk memperbaiki penampilan, tetapi lupa memperbaiki hati.

Jangan sampai kekayaan semakin bertambah, tetapi keberkahan justru berkurang.

Serta Jangan sampai rasa takut kehilangan dunia jauh lebih besar daripada rasa takut kehilangan Allah.

Dan jangan sampai ketika kematian jasad akhirnya datang, kita baru menyadari bahwa jauh sebelumnya hati kita telah mati.

Mari hidupkan kembali hati dengan iman.

Bersihkan dengan taubat.

Terangi dengan Al-Qur’an.

Kuatkan dengan zikir.

Buktikan dengan amal saleh.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah II 

الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ

By: Mukhlis Zarkasdi

Baca Juga :

Sarung Wadimor Motif Murah

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *