pemetaan CP Kurikulum Berbasis Cinta

Guru madrasah perlu memahami dan menyusun Pemetaan Capaian Pembelajaran (CP) Kurikulum Berbasis Cinta sebagai bagian penting dalam mengimplementasikan kebijakan kurikulum terbaru. Melalui pemetaan yang tepat, guru dapat mengidentifikasi kompetensi yang harus dicapai peserta didik sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai Panca Cinta ke dalam proses pembelajaran secara alami, bermakna, dan tidak sekadar menjadi tambahan administrasi.

KMA Nomor 1503 Tahun 2025 merupakan perubahan atas KMA Nomor 450 Tahun 2024 tentang Pedoman Implementasi Kurikulum pada RA, MI, MTs, MA, dan MAK. Dalam kerangka dasarnya, KMA 1503 menegaskan bahwa kurikulum diarahkan pada pengembangan kompetensi dan karakter melalui Pembelajaran Mendalam yang berlandaskan nilai-nilai Panca Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta.

Karena itu, guru perlu memahami cara memetakan CP ke dalam nilai-nilai Panca Cinta agar implementasi KBC benar-benar terlihat dalam pembelajaran.

Artikel ini membahas cara praktis menyusun pemetaan tersebut, lengkap dengan contoh format yang dapat dikembangkan untuk MI, MTs, maupun MA.

Apa Itu Pemetaan Capaian Pembelajaran Berbasis Cinta?

Secara sederhana, pemetaan CP Berbasis Cinta adalah proses menganalisis Capaian Pembelajaran kemudian menentukan kompetensi, materi, aktivitas, dan nilai Panca Cinta yang paling relevan untuk diintegrasikan ke dalam pembelajaran.

Pemetaan ini bukan berarti mengubah CP yang telah ditetapkan.

Guru tetap berangkat dari CP mata pelajaran yang berlaku. Setelah itu, guru melakukan analisis terhadap:

CP → kompetensi yang harus dicapai → materi → aktivitas pembelajaran → nilai Panca Cinta → asesmen.

Dengan pendekatan tersebut, KBC tidak menjadi mata pelajaran baru, tetapi menjadi jiwa yang menghidupkan proses pendidikan.

Panduan Kurikulum Berbasis Cinta yang ditetapkan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 memang ditetapkan sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran bagi madrasah pemerintah maupun masyarakat.

Mengapa Guru Perlu Melakukan Pemetaan CP Berbasis Cinta?

Ada satu kesalahan yang cukup sering terjadi ketika guru mulai menerapkan KBC.

Guru mengambil sebuah nilai cinta, kemudian menempelkannya begitu saja ke dalam perangkat pembelajaran.

Misalnya:

Materi: Pecahan
Tema KBC: Cinta Tanah Air

Namun tidak dijelaskan mengapa materi pecahan berkaitan dengan cinta tanah air dan bagaimana peserta didik mengalami nilai tersebut dalam proses pembelajaran.

Cara seperti ini membuat KBC berpotensi menjadi sekadar administrasi.

Padahal, KMA 1503/2025 menempatkan nilai Panca Cinta sebagai landasan dalam pembelajaran mendalam.

Karena itu, prinsip sederhananya adalah:

Jangan mencari-cari nilai cinta untuk ditempelkan pada CP. Sebaliknya, temukan nilai cinta yang secara alami dapat tumbuh dari CP dan pengalaman belajar peserta didik.

Mengenal Panca Cinta dalam Kurikulum Berbasis Cinta

Sebelum melakukan pemetaan, guru perlu memahami lima nilai utama yang menjadi landasan KBC.

1. Cinta Allah dan Rasul-Nya

Nilai ini berkaitan dengan penguatan keimanan, ketakwaan, ibadah, akhlak, syukur, dan keteladanan Rasulullah ﷺ.

2. Cinta Ilmu

Mendorong peserta didik memiliki rasa ingin tahu, senang belajar, berpikir kritis, menghargai pengetahuan, dan terus mengembangkan diri.

3. Cinta Diri dan Sesama

Membangun empati, kasih sayang, penghargaan terhadap orang lain, toleransi, kerja sama, kepedulian, dan kemampuan menjaga diri.

4. Cinta Lingkungan

Menumbuhkan kesadaran untuk menjaga alam, kebersihan, kelestarian lingkungan, serta menggunakan sumber daya secara bertanggung jawab.

5. Cinta Tanah Air

Menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa, menghargai keberagaman, menjaga persatuan, menaati aturan, serta berkontribusi positif bagi masyarakat dan negara.

Cara Mudah Menyusun Pemetaan CP Kurikulum Berbasis Cinta

Agar tidak rumit, guru dapat menggunakan 7 langkah sederhana berikut.

Langkah 1: Siapkan Capaian Pembelajaran

Langkah pertama adalah mengambil CP sesuai:

  • jenjang;
  • fase;
  • mata pelajaran;
  • elemen.

Jangan memulai dari Panca Cinta.

Mulailah dari CP mata pelajaran.

Hal ini penting agar integrasi KBC tidak menghilangkan substansi akademik mata pelajaran.

Langkah 2: Bedah CP

Setelah CP tersedia, identifikasi kata kerja dan kompetensi yang terkandung di dalamnya.

Misalnya terdapat kemampuan:

  • mengidentifikasi;
  • menjelaskan;
  • menganalisis;
  • membandingkan;
  • menyajikan;
  • menciptakan;
  • merefleksikan.

Kemudian tanyakan:

“Kompetensi apa yang sebenarnya harus dimiliki peserta didik setelah menyelesaikan pembelajaran?”

Hasil analisis inilah yang nantinya menjadi dasar penyusunan tujuan pembelajaran.

Langkah 3: Identifikasi Materi Esensial

KMA 1503/2025 menekankan prinsip berfokus pada muatan esensial, sehingga guru memiliki waktu yang memadai untuk melaksanakan pembelajaran mendalam.

Jangan memasukkan terlalu banyak materi.

Tanyakan:

Apa pengetahuan dan pengalaman paling penting yang harus dibawa peserta didik setelah pembelajaran selesai?

Langkah 4: Tentukan Nilai Panca Cinta yang Paling Relevan

Inilah bagian yang sering membuat guru bingung.

Jawabannya sederhana:

Tidak semua CP harus memuat lima nilai cinta sekaligus.

Pilih satu atau dua nilai yang paling relevan dengan kompetensi dan konteks pembelajaran.

Misalnya:

Materi Nilai Cinta yang Relevan
Lingkungan Cinta lingkungan
Gotong royong Cinta diri dan sesama
Ilmu pengetahuan Cinta ilmu
Akhlak Cinta Allah dan Rasul
Kebangsaan Cinta tanah air
Kebersihan Cinta lingkungan + cinta diri
Kerja kelompok Cinta diri dan sesama

Langkah 5: Hubungkan dengan Aktivitas Pembelajaran

Nilai cinta tidak cukup hanya ditulis dalam tabel.

Nilai tersebut harus dialami peserta didik.

Misalnya guru mengajarkan materi lingkungan.

Jangan hanya menulis:

Tema KBC: Cinta Lingkungan.

Tetapi buat peserta didik mengalami nilai tersebut melalui aktivitas:

Mengamati → berdiskusi → menemukan masalah → mencari solusi → melakukan aksi → merefleksikan pengalaman.

Misalnya:

Peserta didik mengamati kondisi kebersihan lingkungan madrasah, mengidentifikasi masalah, berdiskusi dalam kelompok, kemudian menyusun solusi sederhana dan melakukan aksi menjaga kebersihan.

Di sinilah KBC menjadi nyata.

Langkah 6: Integrasikan Pembelajaran Mendalam

KMA 1503/2025 mengarahkan kurikulum pada Pembelajaran Mendalam yang berlandaskan nilai Panca Cinta.

Karena itu, pemetaan CP sebaiknya tidak berhenti pada:

CP → Materi → Panca Cinta.

Tetapi dikembangkan menjadi:

CP → Kompetensi → Materi Esensial → Panca Cinta → Pengalaman Belajar Mendalam → Asesmen.

Aktivitas pembelajaran dapat dirancang agar:

Mindful

Peserta didik sadar terhadap apa yang dipelajari dan mengapa hal tersebut penting.

Meaningful

Peserta didik menemukan hubungan antara materi dengan kehidupan nyata.

Joyful

Peserta didik belajar dalam suasana aman, positif, aktif, dan menyenangkan.

Langkah 7: Tentukan Asesmen

Langkah terakhir adalah memastikan bahwa nilai yang ditanamkan dapat diamati dan direfleksikan.

Asesmen tidak harus selalu berupa tes tertulis.

Guru dapat menggunakan:

  • observasi;
  • penilaian kinerja;
  • proyek;
  • produk;
  • jurnal refleksi;
  • portofolio;
  • presentasi;
  • penilaian diri;
  • penilaian antarteman.

Misalnya pada tema lingkungan:

Pengetahuan:
Peserta didik mampu menjelaskan masalah lingkungan.

Keterampilan:
Peserta didik mampu menyusun solusi.

Sikap/nilai:
Peserta didik menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan demikian, asesmen tidak hanya bertanya:

“Apa yang diketahui peserta didik?”

tetapi juga:

“Apa yang dapat dilakukan?”

dan:

“Nilai apa yang tumbuh dari pengalaman belajar tersebut?”

Format Sederhana Pemetaan CP Berbasis Cinta

No Capaian Pembelajaran Elemen Kompetensi Materi Esensial Panca Cinta Aktivitas Pembelajaran Asesmen
1 CP sesuai fase Elemen Kompetensi yang dikembangkan Materi Cinta yang relevan Aktivitas belajar Bentuk asesmen
2 CP sesuai fase Elemen Kompetensi yang dikembangkan Materi Cinta yang relevan Aktivitas belajar Bentuk asesmen

Contoh Pemetaan CP Berbasis Cinta untuk MI

Sebagai contoh sederhana, kita gunakan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan tema bunyi di sekitar peserta didik.

Pemetaan

Komponen Contoh
Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Fase Sesuai fase peserta didik
Materi Bunyi di sekitar
Kompetensi Mengidentifikasi dan menyampaikan informasi hasil pengamatan
Panca Cinta Cinta ilmu, cinta lingkungan
Aktivitas Mengamati berbagai bunyi di lingkungan
Pembelajaran Mendalam Mengamati, membandingkan, berdiskusi, menyimpulkan
Produk Hasil pengamatan sederhana
Refleksi Apa yang dipelajari? Apa manfaatnya? Bagaimana menjaga lingkungan agar tetap nyaman?

Nilai tersebut muncul karena peserta didik melakukan pengamatan terhadap lingkungan dan merefleksikan pengalaman belajarnya.

Inilah salah satu prinsip penting KBC:

Nilai cinta harus hadir melalui pengalaman belajar, bukan sekadar melalui tulisan dalam perangkat pembelajaran.

Contoh Pemetaan CP untuk Mata Pelajaran Lain

Agar lebih jelas, berikut contoh sederhananya.

Mata Pelajaran Materi Panca Cinta Contoh Integrasi
Al-Qur’an Hadis Ayat tentang lingkungan Cinta Allah & lingkungan Memahami ayat dan melakukan aksi menjaga lingkungan
Akidah Akhlak Akhlak kepada sesama Cinta diri & sesama Praktik empati dan menghargai teman
Bahasa Indonesia Teks tentang lingkungan Cinta ilmu & lingkungan Membaca, menganalisis, kemudian membuat kampanye lingkungan
Matematika Data lingkungan Cinta ilmu & lingkungan Mengolah data sampah madrasah
IPAS Ekosistem Cinta lingkungan Observasi ekosistem sekitar
PPKn Keberagaman Cinta tanah air & sesama Diskusi tentang persatuan dalam keberagaman
PJOK Kebugaran tubuh Cinta diri Membiasakan pola hidup sehat

Sekali lagi, tabel tersebut adalah contoh pengembangan, bukan berarti setiap materi harus memiliki nilai Panca Cinta tertentu secara kaku.

Kesalahan yang Perlu Dihindari Guru

❌ 1. Memasukkan lima cinta dalam setiap pembelajaran

Tidak wajib.

Lebih baik satu nilai yang kuat dan autentik daripada lima nilai tetapi tidak terlihat penerapannya.

❌ 2. Mengubah CP

KBC bukan alasan untuk mengubah substansi CP.

Yang dilakukan adalah mengintegrasikan nilai dan pengalaman belajar sesuai konteks.

❌ 3. Hanya menulis “Panca Cinta” di perangkat

KBC harus tampak dalam:

tujuan → aktivitas → interaksi → pembiasaan → refleksi → asesmen.

❌ 4. Menganggap KBC sebagai mata pelajaran baru

KBC bukan sekadar tambahan mata pelajaran.

Kemenag pada implementasi 2026 menegaskan integrasinya dalam intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, serta budaya dan iklim madrasah.

❌ 5. Membuat administrasi terlalu rumit

Tujuan pemetaan adalah membantu guru merancang pembelajaran yang lebih bermakna, bukan menambah beban administrasi.

Rumus Cepat Pemetaan CP Berbasis Cinta

Jika ingin cara yang paling sederhana, gunakan rumus berikut:

CP → BEDAH → PILIH → AKTIFKAN → REFLEKSI → ASESMEN

CP
→ Apakah yang harus dicapai?

BEDAH
→ Kompetensi dan materi esensial apa yang terkandung?

PILIH
→ Nilai Panca Cinta apa yang paling relevan?

AKTIFKAN
→ Aktivitas apa yang membuat peserta didik mengalami nilai tersebut?

REFLEKSI
→ Apa makna pembelajaran bagi peserta didik?

ASESMEN
→ Bagaimana kompetensi dan perkembangan peserta didik dapat diketahui?

Dengan rumus ini, guru tidak perlu bingung memulai dari mana.

Pemetaan CP Bukan Sekadar Administrasi

KBC akan berhasil apabila nilai cinta benar-benar terasa dalam kehidupan madrasah.

Dengan demikian, Kurikulum Berbasis Cinta mendorong peserta didik untuk tidak hanya memahami nilai-nilai yang mereka pelajari, tetapi juga merasakan, menghayati, dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, peserta didik tidak hanya belajar tentang kasih sayang, tetapi juga merasakan dan memberikan kasih sayang.

Kedua, peserta didik tidak hanya belajar tentang lingkungan, tetapi juga menjaga dan merawat lingkungan.

Ketiga, peserta didik tidak hanya belajar tentang persatuan, tetapi juga menghargai perbedaan dan membangun kebersamaan.

Selanjutnya, peserta didik tidak hanya belajar tentang agama, tetapi juga menghadirkan nilai-nilai agama dalam akhlak dan perilaku sehari-hari.

Pada akhirnya, peserta didik tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga menumbuhkan kecintaan terhadap ilmu dan menjadikannya bekal untuk menjalani kehidupan.

KMA 1503 Tahun 2025 menempatkan pengembangan karakter, fleksibilitas, dan muatan esensial sebagai bagian dari prinsip kurikulum, sekaligus menegaskan Pembelajaran Mendalam yang berlandaskan Panca Cinta.

Penutup

Menyusun Pemetaan Capaian Pembelajaran (CP) Kurikulum Berbasis Cinta sebenarnya tidak harus rumit.

Kuncinya adalah memulai dari CP, membedah kompetensinya, menentukan materi esensial, memilih nilai Panca Cinta yang paling relevan, kemudian menerjemahkannya ke dalam pengalaman belajar yang mendalam dan bermakna. Dengan demikian, proses pemetaan tidak hanya membantu guru menyusun perangkat pembelajaran, tetapi juga memastikan nilai-nilai cinta benar-benar terintegrasi dalam pengalaman belajar peserta didik.

Selanjutnya, dengan cara tersebut, Kurikulum Berbasis Cinta tidak berhenti sebagai dokumen kurikulum, tetapi benar-benar menjadi pendekatan yang membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman, berilmu, berakhlak, peduli, mampu bekerja sama, mencintai lingkungan, dan memiliki tanggung jawab terhadap bangsa.

Sejalan dengan itu, implementasi KMA 1503/2025 sendiri terus diperkuat di berbagai daerah pada 2026. Oleh karena itu, guru perlu menyesuaikan bukan hanya dokumen kurikulum, tetapi juga pendekatan dan metode pembelajaran agar semakin sejalan dengan arah kebijakan baru dan semangat Kurikulum Berbasis Cinta.

Sumber : 

Baca Juga :

By: Mukhlis Zarkasdi

Baca Juga :

Sarung Wadimor Motif Murah

Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *