Hutan Dibakar, Udara Diracuni: Di Mana Letak Amanah Kekhalifahan Kita?
KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Sebab, takwa bukan sekadar ucapan yang kita dengarkan setiap Jumat. Takwa adalah cara kita menjalani kehidupan. Takwa mengajarkan kita untuk taat kepada Allah, berbuat baik kepada sesama, dan menjaga apa yang telah Allah titipkan kepada kita. Sebab, manusia tidak hanya akan ditanya tentang bagaimana ia beribadah, tetapi juga tentang bagaimana ia menggunakan nikmat dan amanah yang diberikan kepadanya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari ini, ada satu amanah yang sedang berada tepat di depan mata kita: bumi tempat kita berpijak dan udara yang setiap detik kita hirup. Langit yang seharusnya biru mulai tertutup asap. Udara yang seharusnya segar berubah menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Anak-anak harus membatasi aktivitas di luar rumah. Masyarakat ikut merasakan dampaknya. Pertanyaannya: apakah ini hanya persoalan lingkungan, atau ada pesan keimanan yang harus kita renungkan?
Ketika hutan terbakar, udara tercemar, dan banyak orang ikut merasakan akibatnya, kita perlu bertanya kepada diri sendiri:
“Sudahkah kita menjalankan amanah Allah sebagai khalifah di bumi?”
Sebab, bumi bukan sekadar tempat tinggal kita. Bumi adalah amanah Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Saudara-saudaraku,
Pernahkah kita membayangkan hidup dalam keadaan ketika langit tidak lagi terlihat biru?
Dan Pernahkah kita membayangkan anak-anak harus mengurangi aktivitas di luar rumah karena udara yang mereka hirup tidak lagi sehat?
Serta Pernahkah kita berpikir bahwa sesuatu yang dibakar di satu tempat dapat menghasilkan asap yang kemudian dihirup oleh ribuan, bahkan jutaan manusia?
Inilah yang perlu kita renungkan.
Kabut asap bukan sekadar persoalan langit yang kelabu. Kabut asap adalah persoalan kehidupan.
Ketika udara tercemar, kesehatan masyarakat ikut terancam.
Dan Ketika hutan terbakar, tumbuhan dan hewan kehilangan tempat hidup.
Serta Ketika lahan rusak, masyarakat yang menggantungkan hidup pada alam ikut merasakan akibatnya.
Bahkan orang yang tidak pernah menyalakan api pun dapat terkena dampaknya.
Lalu muncul sebuah pertanyaan besar:
Ketika udara yang kita hirup menjadi tercemar dan masyarakat ikut menderita, di mana letak amanah kita sebagai khalifah di bumi?
Manusia Bukan Pemilik Mutlak Bumi
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia memiliki kedudukan khusus di bumi. Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
“Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.’”
(QS. Al-Baqarah: 30)
Ayat ini mengajarkan bahwa manusia adalah khalifah di bumi.
Namun, apa arti khalifah?
Khalifah bukan berarti manusia menjadi penguasa yang boleh melakukan apa saja.
Khalifah berarti manusia menerima amanah.
Kita diberi kesempatan untuk mengelola bumi, tetapi juga dibebani tanggung jawab untuk menjaganya.
Allah memberikan hutan kepada kita, bukan untuk dirusak.
Memberikan tanah kepada kita, bukan untuk dihancurkan.
Dan Allah memberikan air kepada kita, bukan untuk dicemari.
Bahkan Allah memberikan udara kepada kita, bukan untuk diracuni.
Karena itu, kekhalifahan bukan izin untuk mengeksploitasi bumi sesuka hati. Kekhalifahan adalah amanah untuk merawat bumi dengan penuh tanggung jawab.
Inilah yang sering kita lupakan.
Kita senang menerima manfaat dari alam, tetapi terkadang lupa menjaga sumber manfaat tersebut.
Dan Kita menikmati udara bersih, tetapi kurang peduli terhadap pencemaran.
Bahkan Kita membutuhkan hutan, tetapi kadang memandang hutan hanya sebagai sumber keuntungan.
Padahal, semua yang ada di bumi adalah ciptaan Allah.
Allah Melarang Kerusakan di Bumi
Hadirin rahimakumullah,
Islam sangat jelas dalam memberikan pedoman tentang lingkungan.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Perintah ini sederhana, tetapi maknanya sangat luas:
Jangan membuat kerusakan.
Jangan merusak hutan, Jangan mencemari sungai, Jangan membakar lahan dengan cara yang membahayakan, Jangan merusak tanah, Jangan menghancurkan habitat makhluk hidup, dan Jangan pula melakukan sesuatu yang membuat banyak orang menanggung penderitaan.
Jamaah yang dirahmati Allah,
Kita harus mampu membedakan antara memanfaatkan alam dan merusak alam.
Islam tidak melarang manusia memanfaatkan bumi.
Petani boleh mengolah tanah.
Pengusaha boleh menjalankan usaha.
Masyarakat boleh menggunakan hasil hutan sesuai aturan.
Namun, semua itu harus dilakukan dengan tanggung jawab.
Sebab kebutuhan ekonomi tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan kehidupan orang lain.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri:
Jika sebuah tindakan menghasilkan keuntungan bagi sebagian orang, tetapi menimbulkan asap, penyakit, kerusakan hutan, dan penderitaan bagi banyak orang, apakah tindakan itu masih dapat disebut sebagai keberhasilan?
Pertanyaan ini bukan hanya untuk orang lain.
Pertanyaan ini juga untuk kita.
Kerusakan Alam dan Perbuatan Manusia
Allah SWT kembali memberikan peringatan:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini sangat kuat untuk menjadi bahan renungan.
Allah mengingatkan bahwa kerusakan dapat terjadi karena perbuatan tangan manusia.
Tangan yang seharusnya merawat bisa saja merusak.
Tangan yang seharusnya menanam bisa saja membakar.
Dan Tangan yang seharusnya menjaga kebersihan bisa saja mencemari.
Karena itu, ketika kita melihat kabut asap, jangan hanya bertanya:
“Siapa yang salah?”
Mari kita mulai dengan pertanyaan yang lebih penting:
“Apa yang dapat saya lakukan?”
Jangan selalu mencari kesalahan orang lain sebelum memeriksa diri sendiri.
Mungkin kita belum mampu menyelamatkan seluruh hutan.
Namun, kita bisa menjaga halaman rumah.
Kita mungkin belum mampu menghentikan seluruh kebakaran hutan.
Namun, kita bisa berhenti melakukan pembakaran yang membahayakan lingkungan.
Kita mungkin belum mampu mengubah kebijakan besar.
Namun, kita dapat mengubah kebiasaan kecil.
Perubahan besar sering dimulai dari kesadaran kecil yang dilakukan secara bersama-sama.
Ketika Kerusakan Alam Menyakiti Sesama
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Islam mengajarkan prinsip yang sangat sederhana:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh membahayakan orang lain.”
Prinsip ini sangat relevan dengan persoalan kabut asap.
Asap tidak mengenal batas.
Ia tidak bertanya apakah seseorang kaya atau miskin.
tidak pula memilih apakah seseorang pejabat atau rakyat biasa.
dan tidak membedakan anak-anak, orang dewasa, maupun orang lanjut usia.
Semua dapat terkena dampaknya.
Karena itu, kita perlu memahami satu hal:
Ketika tindakan kita menyebabkan bahaya bagi orang lain, persoalannya bukan lagi sekadar urusan pribadi. Ia telah menyentuh hak orang lain.
Keuntungan yang diperoleh dengan menimbulkan penderitaan bagi banyak orang bukanlah keberhasilan yang patut dibanggakan.
Harta dapat dicari kembali.
Usaha dapat dibangun kembali.
Tetapi kesehatan manusia, hutan yang telah rusak, dan ekosistem yang telah hilang tidak selalu dapat dipulihkan dengan mudah.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Menjaga lingkungan bukan sekadar urusan pemerintah.
Juga bukan hanya tugas aktivis lingkungan.
Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab setiap manusia, terlebih bagi seorang Muslim yang memahami dirinya sebagai khalifah Allah di bumi.
Kita bisa memulainya dari hal sederhana.
Jangan membakar sampah sembarangan, membuang sampah ke sungai dan Jangan merusak pohon tanpa alasan yang benar.
Gunakan air secukupnya.
Rawat tanaman di sekitar rumah.
Tanam pohon jika memiliki kesempatan.
Ajarkan anak-anak untuk mencintai lingkungan.
Ingatkan keluarga agar tidak melakukan tindakan yang membahayakan alam.
Jika memiliki usaha yang berkaitan dengan tanah dan hutan, kelolalah dengan penuh tanggung jawab.
Ketika memiliki kewenangan, gunakan kewenangan untuk melindungi masyarakat dan lingkungan.
Apabila menjadi guru, tanamkan kecintaan terhadap alam kepada peserta didik.
Jika menjadi tokoh agama, sampaikan bahwa menjaga bumi merupakan bagian dari akhlak seorang Muslim.
Semua orang memiliki peran.
Tidak harus menunggu menjadi pejabat.
Dan Tidak harus menunggu menjadi pengusaha besar.
Serta Tidak harus menunggu menjadi aktivis.
Kita dapat memulai dari diri sendiri.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,
Kabut asap jangan dijadikan alasan untuk saling mencaci.
Jangan pula menjadi bahan untuk menuduh tanpa bukti.
Setiap pihak memiliki tanggung jawab sesuai perannya.
Pemerintah berkewajiban membuat dan menegakkan aturan.
Pelaku usaha berkewajiban menjalankan kegiatan secara bertanggung jawab.
Masyarakat berkewajiban menjaga lingkungan di sekitarnya.
Para ulama dan pendidik berkewajiban membangun kesadaran umat.
Keluarga berkewajiban mengajarkan kebiasaan baik kepada anak-anak.
Dengan cara itulah kita membangun budaya menjaga lingkungan.
Sebab bumi adalah ciptaan Allah, sedangkan tanggung jawab menjaganya merupakan amanah yang harus kita tunaikan bersama.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Sebelum khutbah ini berakhir, mari kita berhenti sejenak.
Bayangkan seorang anak berdiri di depan rumahnya.
Ia melihat langit yang penuh asap.
bertanya kepada ayah dan ibunya:
“Mengapa udara kita tidak lagi bersih?”
Apa yang akan kita jawab?
Apakah kita akan mengatakan bahwa itu bukan urusan kita?
Atau kita akan menjawab:
“Nak, kita sedang berusaha memperbaikinya karena bumi ini adalah amanah dari Allah.”
Mari kita renungkan.
Jika hutan adalah amanah Allah, sudahkah kita menjaganya?
udara adalah nikmat Allah, sudahkah kita melindunginya?
air adalah sumber kehidupan, sudahkah kita merawatnya?
bumi menjadi tempat hidup bersama, sudahkah kita memperlakukannya dengan adil?
Dan jika kerusakan lingkungan membuat orang lain menderita, masihkah kita merasa tidak memiliki tanggung jawab?
Hadirin rahimakumullah,
Kabut asap seharusnya tidak berhenti sebagai keluhan.
Jadikan ia sebagai peringatan, sebagai muhasabah.
Jadikan ia sebagai kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Allah, sesama manusia, dan alam.
Persoalan kabut asap bukan hanya tentang api yang membakar hutan.
Ini adalah ujian bagi manusia.
Apakah kita akan menjadi khalifah yang menjaga?
Ataukah kita justru menjadi manusia yang menambah kerusakan?
Jangan sampai kita rajin beribadah di masjid, tetapi lalai menjaga bumi yang Allah amanahkan kepada kita.
Dan Jangan sampai lisan kita memohon udara yang sehat kepada Allah, sementara tangan kita ikut menyebabkan udara itu tercemar.
Serta Jangan sampai kita mengajarkan anak-anak tentang akhlak, tetapi memberikan mereka warisan lingkungan yang rusak.
Mari kita tanamkan dalam hati:
Menjaga bumi adalah bagian dari amanah.
Melindungi sesama adalah bagian dari ibadah.
Menghindari kerusakan adalah bagian dari ketakwaan.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم ولسائر المسلمين فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلّٰهِ وَ الْحَمْدُ لِلّٰهِ ثُمَّ الْحَمْدُ لِلَّهِ. أَشْهَدُ أنْ لآ إلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ لَا نَبِيّ بعدَهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يٰأَ يُّها الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدَنَا مُحَمَّدٍ. اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْياءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ والقُرُوْنَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عامَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ
اللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَاَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
عٍبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتاءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ
By: Mukhlis Zarkasdi
Baca Juga :

- Khutbah Jum’at Maulid Nabi: Meneladani Rasulullah, Jalan Keluar dari Krisis Moral
- Khutbah Jum’at Maulid sebagai Inspirasi Persatuan Umat di Tengah Perpecahan
- Tua Bukan Berarti Usang: Makna Hidup Lansia di Era Modern
- Masjid, Madrasah, dan Media: 3 Pilar Edukasi Islam yang Harus Berjalan Bersama
- Download RPP RA, MI, MTs, dan MA Kurikulum Berbasis Cinta
- Download Pemetaan CP Kurikulum Berbasis Cinta Semua Fase RA, MI, MTs, dan MA
- Pendaftaran Santri Baru 2026: Kelas Qiro’at Sab’ah untuk Pemula Rumah Tilawah Nurul Hikmah
- Download Buku Al-Qur’an Hadist Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku Akidah Akhlak Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku Fikih Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku Bahasa Arab Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku SKI Madrasah Ibtidaiyah (MI)
- Download Buku Al-Qur’an Hadist Madrasah Tsanawiyah (MTS)
- Download Buku Akidah Akhlak Madrasah Tsanawiyah (MTS)
- Download Buku Fikih Madrasah Tsanawiyah (MTS)
- Download Buku Bahasa Arab Madrasah Tsanawiyah (MTS)
- Download Buku SKI Madrasah Tsanawiyah (MTS)


